Pilih “Bungkus” atau “Isi”?
“Rumah indah” hanya bungkusnya, “keluarga bahagia” itu isinya.
“Pesta pernikahan” hanya bungkusnya, “cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab” itu isinya.
“Ranjang mewah” hanya bungkusnya, “tidur nyenyak” itu isinya.
“Kekayaan” itu hanya bungkusnya, “hati yang gembira” itu isinya.
“Makan enak” hanya bungkusnya, “gizi, energi, dan sehat” itu isinya.
“Kecantikan dan ketampanan” hanya bungkusnya, “kepribadian dan hati” itu isinya.
“Bicara” itu hanya bungkusnya, “kenyataan” itu isinya. “Buku” hanya bungkusnya; “pengetahuan” itu isinya.
“Jabatan” hanya bungkusnya, “pengabdian dan pelayanan” itu isinya.
“Pergi ke tempat ibadah” itu bungkusnya, “melakukan ajaran agama” itu isinya.
“Kharisma” hanya bungkusnya, “karakter” itu isinya.
“Rejeki” itu hanya bungkusnya, “keberkahan” itu isinya.
By Emha Ainun Najib
Anakku, dalam kehidupanmu, akan banyak sekali pilihan pilihan yang harus kamu ambil, dan untuk memilihnya, kamu dituntut untuk memilih dengan bijaksana.
Papa ceritakan sedikit dari ketidakbijaksanaan papa, yang pernah papa lakukan supaya kamu bisa menangkap lebih jelas maksud dari pesan papa ini nak.
Bertahun-tahun yang lalu sebelum papa menulis pesan ini, papa pernah hidup dengan banyak pilihan-pilihan yang ternyata setelah akhirnya papa mengerti, pilihan yang papa ambil itu tidak bijaksana nak. Masa-masa itu hidup papa hanya mementingkan kesenangan papa sendiri dan mementingkan “apa kata orang”.
Kalau boleh papa membela diri, pilihan yang papa ambil itu bukan sepenuhnya kesalahan papa lho…
Saat itu hampir setiap hari, papa “dipaksa” untuk mempunyai impian-impian yang “besar”…
Hampir setiap saat, papa diajak untuk melihat, memikirkan, membayangkan impian-impian yang besar seperti Income yang besar bahkan mencapai milliaran rupiah, Rumah yang besar dan mewah, mobil Mercy yang sangat mahal harganya, kebebasan financial, dan hal-hal sejenis lainnya. Dan mereka menyebutnya dengan istilah Dream Building.
Dan apa yang terjadi? akhirnya setiap pilihan yang papa ambil berdasarkan impian impian itu, hanya dalam tempat dan porsi yang salah.
Saat papa stress(yang sebenarnya hanya stress yang seharusnya tidak penting, stress yang karena pikiran papa sendiri dan papa buat sendiri), papa jalan jalan ke toko HP dan menukarkan HP papa(yang seharusnya masih sangat bagus) dengan HP baru(dan tentunya bukan HP yang murah). HP papa pasti masih bagus setiap papa jual nak, karena memang sering stress waktu itu. he he he he…
Meskipun sebenarnya papa belum sanggup untuk memiliki sebuah mobil, papa memaksakan diri(dengan alasan demi memacu semangat kerja) untuk ambil kredit mobil. Dan saat uang papa tidak cukup untuk membayar cicilan mobil papa itu, papa jalan-jalan lagi, ke toko HP, dan ganti HP lagi!!!!.
Saat itu, papa bisa bilang kalau papa berhasil nak, berhasil membuat banyak orang lain(walaupun tidak semua orang) kagum, berhasil membuat banyak orang lain(walaupun tidak semua orang) iri karena “keberhasilan” dan “kesuksesan” papa.
Kamu tahu nak, apa yang orang lain lihat dari kehidupan papa waktu itu? papa ini orang yang sukses, penghasilan besar, dan lain sebagainya yang seharusnya membuat papa bangga.
Tapi akhirnya papa sadar, atau lebih tepatnya capek menjalani gaya hidup yang sebenarnya papa tahu kalau papa tidak sanggup dan tidak nyaman. Apalagi karena besarnya pengeluaran papa, membuat papa mulai terlilit hutang yang semakin membesar.
Kalau papa mau membela diri, sangat bisa nak. Papa bisa menyalahkan orang lain disekitar papa waktu itu, tetapi bila papa terus menyalahkan orang lain, papa tidak akan mendapatkan pelajaran apa-apa.
Tetapi bila harus jujur, kesalahan sebenarnya adalah karena papa mengambil pilihan yang salah nak. Papa lebih memilih “Bungkus” daripada “isi”.
Butuh bertahun-tahun untuk menjalani dan membayar konsekuensi dari ketidakbijaksanaan papa itu nak, kamu ingat kan?, ada konsekuensi yang harus dijalani dalam setiap pilihan yang kamu ambil. Dan sepenggal masa kehidupan yang papa jalani itu adalah pelajaran yang luar biasa indahnya, yang secara perlahan tapi pasti membentuk papa, bahkan sampai saat ini.
Dari sepenggal cerita kehidupan papa diatas, papa ingin kamu memahami nak, bahwa dalam kehidupan mu, akan sangat-sangat banyak “Dream Building”, yang kamu sadari atau tidak, akan ditawarkan kepadamu.
Pada masa saat papa menulis pesan ini, banyak sekali tawaran untuk memiliki kartu kredit, dengan segala macam discount yang menyertainya, mulai discount tempat makan, discount pembelian elektronik, bahkan pembelian barang apapun dengan sistem cicilan dengan bunga 0%. Sedangkan Kartu Kredit itu salah satu yang menjebak papa saat itu. Kesalahan memang bukan pada Kartu Kreditnya nak, untuk hal tertentu, kartu kredit bisa sangat sangat berguna. Tetapi sering kali, kesalah terletak pada pengguna dan cara penggunaan kartu kredit.
Pada masa saat papa menulis pesan ini, perusahaan HP, Komputer, Mobil, dan lainnya, berlomba-lomba dalam waktu singkat dan secara rutin mengeluarkan versi baru yang mereka nyatakan jauh lebih bagus dan jauh lebih sempurna dari versi sebelumnya. Contohnya mobil nak, tahun 2013 akhir papa mendapatkan mobil D*ih*tsu X*ni* yang pada tahun 2013 adalah type yang terbaru, dengan segala kecanggihan, kesempurnaan mesin, keindahan design interior dan exterior yang indah luar biasa(menurut penjualnya). Pada tahun 2015, mereka sudah mengeluarkan type yang lebih baru lagi.
Dan begitu juga berlaku untuk barang barang lain.
Kesalahan memang bukan terletak pada barang barang itu nak, tetapi pilihan kita untuk menjadi konsumtif, tanpa mengukur kemampuan diri sendirilah yang sering kali menyebabkan kekacauan. Pilihan untuk membeli barang berdasarkan keinginan dan gaya hidup dan bukan berdasarkan fungsi dan kebutuhan lah yang selalu mengacaukan segalanya.
Papa dan mama berkomitment untuk membiarkan kamu dengan bebas menentukan pilihan hidup mu sendiri nak, itulah sebabnya papa menuliskan sepenggal cerita kehidupan papa ini. Setidaknya, sepenggal cerita yang papa tulis ini dapat menjadi panduan bagimu untuk mengambil setiap pilihan dalam hidupmu dengan bijaksana, sekaligus mengingatkan kamu nak, bahwa ada konsekuensi yang harus kamu jalani dalam setiap pilihanmu.
Kamu mungkin akan pernah melakukan kesalahan, it’s okay, tidak ada manusia yang selalu benar nak. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, kamu bisa baca sendiri kalau papa juga pernah melakukan kesalahan. Tetapi kamu juga harus ingat, bahwa selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya. Meskipun nantinya, kamu tetap harus menjalani konsekuensinya, tetapi papa yakin kamu pasti bisa melaluinya. Perjuangan papa untuk membayar konsekuensi dari ketidakbijaksanaan papa juga tidak ringan, tetapi cepat atau lambat, bisa juga papa lalui.
Saat ini, setelah bertahun-tahun berlalu, papa bisa tersenyum bahagia saat mengingat masa masa itu. Benar-benar pelajaran yang sangat berharga.
Satu kalimat pesan berharga untuk kamu renungkan nak, pesan ini papa dapatkan dari sebuah buku yang papa baca :
JADILAH TERANG DAN JADILAH GARAM BAGI DUNIA INI
Menjadi Terang itu berarti kamu tidak perlu teriak-teriak kesana sini supaya orang lain tahu bahwa kamu itu terang atau membawa terang nak….
Menjadi Terang itu cukup kamu diam dan terus memancarkan terang seperti lilin, dan biarkan orang lain yang merasakan terangmu, biarkan orang lain yang mengakui bahwa kamu itu terang.
Dan saat kamu menjadi lilin, dan kamu pergi kesana kemari, teriak-teriak kesana kemari, tidak menutup kemungkinan kamu akan menetesi orang dan orang akan teriak kepanasan nak.
Menjadi Garam itu bukan berati kamu dengan gagahnya sendirian masuk kedalam mulut orang, mereka akan teriak karena terlalu asin.
Menjadi Garam itu artinya kamu masuk kedalam semangkuk sup yang panas, memberikan rasa asin yang berimbang kepada sup itu, dan biarkan orang lain menikmati semangkuk sup itu.
Dan saat kamu menjadi Garam, kamu tidak perlu menonjolkan diri juga, nanti sup nya terlalu asin dan orang tidak suka menikmatinya. Kamu tidak perlu kawatir, karena setiap orang yang pernah makan sup, pasti tahu apakah sup itu sudah diberi garam atau belum.
Tetap terus lakukan kebaikan ya nak….
Dunia sepertinya semakin hari semakin membutuhkannya.